Image of Mendobrak Penjara Rezim Soeharto : Kisah Nyata Anak Manusia

Book:Book

Mendobrak Penjara Rezim Soeharto : Kisah Nyata Anak Manusia



Pada era kepemimpinan Soeharto, seluruh elemen/ unsur pemerintahan berada pada “kendali” presiden Soeharto, dimana presiden memegang penuh fungsinya atas kehendak presiden “bapak pembangunan” saat itu. Pada saat itu, tahun 1965 ada seorang tahanan politik Soeharto perlawanannya secara politik membuat beliau harus ditahan lebih dari 12,5 tahun di penjara Kalisosok Surabaya dan Pulau Paru Nusakambangan. Mendobrak Penjara Rezim Soeharto merupakan buku tulisan sekaligus pemeran utama dari kisah nyata yang dialami Adam Soepardjan dan rekan-rekannya seperjuangan. Peristiwa G30S 1965 mengawali aksi kekejaman rezim Soeharto dan militernya yang berorientasi pada kekuasaan. Simpatisan PKI, ormas dan seluruh antek-antek Soekarno yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan dibunuh dan disandera oleh Soeharto dan anak buahnya. Tahun 1968 terjadilah usaha perlawanan terhadap rezim di Blitar Selatan. Namun, semua yang dilakukan hanyalah sebuah ke-sia-siaan yang menewaskan banyak warga sipil tanpa senjata. Operasi dari pihak rezim dipimpin oleh Kodam VIII Brawijaya – Jawa Timur Moh. Yasin. Operasi ini dinamakan TRISULA. Setelah beberapa lama, operasi ini dilanjutkan oleh Brigjen TNI Witarmin yang berhasil “meredam” penuh pemberontakan rakyat Blitar. Operasi yang dilakukan, menewaskan banyak sekali sarekat pekerja, buruh, tani, pegawai kantoran, PNS, pekerja lapas yang dianggap sebagai antek-antek Soekarno. Banyak juga para pekerja yang dianggap PKI ditahan dan disiksa sampai geger otak seperti Adam Soepardjan yang menjadi salah satu tahanan politik. Ia disiksa secara tidak wajar dan di masukan dalam penjara Kalisosok Jawa Timur pada Oktober 1965. Lebih dari 500 orang bersamaan dengan beliau, mereka disiksa dan dibunuh secara perlahan dengan tidak memberikan makanan berminggu-minggu sampai akhirnya mati sendiri. Realitas kekuasaan Soeharto pada saat itu bisa menaklukan apa saja yang diinginkan politik kekuasaan dan prinsip hukum rimbanya membuat orang seperti Adam Soepardjan tidak bisa berkutik sedikitpun sampai masanya tiba. Kekuasaan Soeharto dalam bentuk penjara merupakan gambaran betapa kejamnya masa orde baru. Siapakah Adam Soepardjan? Ia adalah seorang buruh, yang terlibat lama dengan rezim kolonial. Sosoknya yang disegani karena pendidikannya yang tinggi dan kemampuan berbahasa asing, membuat dia menjadi sosok di lingkungan kerjanya. Pada awal 1950an namanya mulai melambung ditengah-tengah masyarakat sehingga pada awal itu menjadi awal-awal perjuangannya nyatanya untuk melawan rezim yang tirani saat itu. Beliau disorot oleh militer Soeharto sebagai “aktivis” berbahaya yang menjadi provokator perlawanan yang logika dan kemampuan analisanya perlu di waspadai. Perang dingin (perang pemikiran) mulai terjadi dengan banyaknya isu-isu yang dibuatnya dalam lingkungan kerjanya terkait kebijakan-kebijakan atasan dan pemerintah diluar logika dan batas-batas persepsi logis manusia. Jatuhnya Soekarno membuat Adam Soepardjan kian di “perhatikan” oleh antek-antek Soeharto dan membawanya sampai kepada babak mengerikan yang membawa ia dan ideologinya terbelenggu dan masuk kedalam penjara dan disiksa oleh bangsanya sendiri. Ia merupakan salah satu bagian dari pergerakan kemerdekaan masa kolonial Belanda yang bergerak pada nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan memperjuangkan hak buruh didalamnya. Namun, orde baru membuatnya tidak lagi seperti pejuang, tapi tidak lebih seorang tahanan tanpa peradilan. Perannya sejauh ini membuatnya menjadi tahanan politik (tapol) sehingga membuatnya berjuang melawan rezim didalam penjara bersama rekan-rekannya yang tidak sedikit mati dan disiksa. Absolutnya kekuasaan Soeharto Pembunuhan PKI dan seluruh kelompok yang oposisi terhadap rezim Soeharto, menjadi tidak aman lagi di negeri sendiri. Perampasan, kesemena-menaan, pencurian, pembunuhan dan bentuk kejahatan lainnya merupakan cara rezim untuk “menyelamatkan ideologi negara”. Kekuasaan nya yang nyaris absolute ini terlihat dalam peristiwa-peristiwa yang tidak manusiawi, yang kemudian tanpa koreksi dan evaluasi hukum. Penjara tanpa peradilan dan persidangan merupakan bagian dari kekuasaan tirani yang perlu dipertanyakan di mahkamah HAM. Kecongkakan dan kekuasaan yang penuh membuat nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi dihiraukan. Nilai-nilai kemanusiaan, pancasila dan keluhuran bangsa tidak lagi di “teruskan” Soeharto setelah Soekarno diturun paksa olehnya. Contohnya saja kekejaman dalam penjara yang berkapasitas 30 orang harus dimuat oleh sipir penjara 80 orang atau bahkan sampai 100 orang! Mereka dilipat dan di “tumpuk” layaknya buku perpustakaan yang tersusun “tidak rapi”. Setiap hari tahanan diberi makan tidak menentu, ketika diberi makanan nasi yang dibungkus daun jati dengan sedikit ikan teri mentah dan kubis potongan yang sudah layu dan teroksidasi oleh udara. Tak bisa kita bayangkan bukan? Dan ternyata masih banyak lagi contoh-contoh kekejaman rezim baik dalam hal kecil sampai penistaan HAM yang dibuat. Perjuangan Ketahanan dan perjuangan rekan-rekannya yang konsisten, berhasil membuat getarnya penjara. Bangkit dan melawan adalah salah satu cara untuk meredam isu-isu yang ada, dan bahkan melawan isu dengan politik. Menyuarakan sebuah hak pada zaman orba merupakan tidakan bunuh diri dan bahkan lebih buruk dari itu. Perjuangan dengan membuat isu yang menyudutkan divisi keamanan penjara membuat gerah seluruh pejabat penjara. Isi-isu yang beredar membuat keluarga napi yang berkunjung melihat sehingga adanya perubahan yang membuat sipir penjara dan antek-anteknya yang kejam berubah menjadi dingin karena takut dengan rakyat (keluarga napi) yang ratusan. Hingga akhirnya, isu tersebut membuat napi lebih sedikit aman. Namun, siksa dan hukuman yang tidak logis dan tanpa sebab masih terus dilakukan secara diam-diam. Tahun 1978 akhirnya Adam Soepardjan bersama rekan-rekan memperoleh kebebasan, namun hak-hak pilitik dan pengawasan masih terus dilakukan oleh rezim. Sampai hari ini, masih terasa bahwa penjara politik orde baru masih ada. Kesimpulan Untuk Mahasiswa Perjuangan dan ketulusan yang diperjuangkannya menjadi nilai tersendiri bagi yang mengalami. Perlawanan terhadap era orde baru merupakan perjuangan yang tidak bisa dibayar jasanya berapapun. Kebenaran sejarah bangsa yang terjadi membuat kita harus berfikir dan bertekad untuk tidak terulang lagi masa kelam bangsa ini. Fakta dan data yang belum terungkap masih banyak lagi. Korelasi dengan mahasiswa yang menjatuhkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 janganlah terlalu berbangga diri, tokoh-tokoh seperti Adam Soepardjan dan yang lain merupakan suatu tinta emas ukiran sejarah yang harus menjadi semangat gelora kita dalam mengawal kebijakan pemerintah dari kebijakan yang memihak dan mementingkan kepentingan pribadi. Berangkat dari sejarah dan makna yang terkandung dari buku ini, bahwa adanya suatu pergerakan mahasiswa yang menjadi kaum intelektual muda di tengah masyarakat, yang memiliki “ruang bebas” dituntut memiliki peran yang lebih terhadap kehidupan bangsa. sejarah bangsa yang terjadi dari yang emas hingga kejadian kelam yang terjadi menjadi bahan evaluasi untuk mencapai tujuan bersama. Dan tentu saja tidak ada terjadinya suatu penjajahan dalam “bentuk lain”. Mahasiswa dan gerakannya harus bersifat inisiatif-aktif, tulus-ikhlas dan mengedepankan nilai logika berfikir jernih. Pada intinya, nilai-nilai pancasila dan UUD’1945 yang digagas Presiden Soekarno dan rekan-rekan menjadi pondasi pergerakan mahasiswa. Karena pada prinsipnya manusia dan seluruh elemen didalamnya merupakan suatu kesatuan yang selaras untuk kehidupan yang baik. Sesuai dengan rasa syukur yang diungkapkan bangsa ini dalam UUD 1945 kemerdekaan kita “berkat rahmat Allah yang maha Kuasa”. Bagaimana kita sebagai mahasiswa memaknai kemerdekaan, memaknai rahmat yang telah diberikan. Kesimpulan Untuk Rakyat Kita sebagai rakyat harus terus optimis dan berfikir kedepan dan melihat kondisi. berangkat dari realita, bangun kerangka berfikir yang benar dan membangun untuk kemajuan, menghadapi era globalisasi yang penuh tantangan dan teka-teki yang harus kita jawab dengan kebersamaan dan gotong-royong..


Ketersediaan

41211101064991"Orba":342.7 Sup mPerpustakaan FIS UNYTersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
991
Penerbit Ombak : Yogyakarta.,
Deskripsi Fisik
xxi+321hlm.;21cm.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
97996941057
Klasifikasi
991
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
42037,42022
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this